ADVETORIALMETROPOLITIK
Trending

Mufti Salim Maju Walikota, Djohan Terancam

METRO – Peta politik di Kota Metro masih sangat dinamis dan terus bergulir. Salah satu yang paling dinantikan bagaimana langkah petahana Wakil Walikota Metro Djohan dalam pemilihan Walikota Metro kali ini. Berkaca dari situasi politik kekinian, PKS termasuk partai paling akhir yang memunculkan nama calonnya. Tidak tanggung-tanggung, Ketua DPW PKS Lampung Ahmad Mufti Salim (AMS) yang diturunkan ke gelanggang sebagai kartu AS untuk membendung kekuatan para calon yang bakal maju.
Dengan kemunculan Ahmad Mufti Salim, PKS diyakini tidak akan menjadikan ketua provinsi mereka hanya untuk menjadi bakal calon Wakil Walikota Metro. Hal ini pula yang kemudian akhirnya menggembosi kesempatan Djohan bersama Demokrat untuk maju. Seperti diketahui, jika ingin kembali maju, Djohan harus menjadi bakal calon walikota, karena sudah dua kali menjadi Wakil Walikota Metro. Sementara untuk mengusung calon walikota, Demokrat harus berkoalisi, pasalnya di parlemen hanya memiliki tiga kursi. Padahal syarat untuk parpol atau gabungan parpol mencalonkan harusnya minimal lima kursi
Dengan kondisi saat ini, dimungkinkan muncul empat calon dengan Djohan yang menjadi tumbal alias tidak dapat teman berkoalisi. Saat ini, sudah ada tiga pasangan calon kuat yang digadang gadang akan mendapatkan rekomendasi dari parpolnya. Di antaranya Anna Morinda-Fritz Akhmad Nutzir yang diusung PDI Perjuangan, dan Ampian Bustami-Rudy Santoso yang diusung Golkar. Sementara satu pasangan independen adalah dr Wahdi-Qomaru Zaman.
Pasangan Anna-Fritz diketahui tidak terlalu intens lagi melakukan komunikasi politik. Sehingga kemungkinan akan menambah partai koalisi sangat kecil. Apalagi dengan hanya diusung PDI Perjuangan, pasangan ini sudah cukup karena memang memiliki lima kursi.
Sementara pasangan Ampian Bustami-Rud Susanto selain diusung Golkar, diprediksi akan menambah partai koalisinya. Salah satu yang paling santer adalah bergabungnya Partai Amanat Nasional (PAN) yang baru saja menyelesaikan pemilihan ketua umumnya yang kembali menempatkan Zulkifli Hasan sebagai ketum. Isyarat bergabungnya PAN ini sudah tampak di beberapa kali acara Ampian-Rudy, pengurus PAN kerap hadir da berselfie ria. Hal ini sekaligus menegaskan arah politik partai tersebut di pilkada Lampung Tengah, dimana Golkar Lamteng juga berkoalisi dengan PAN. Indikasi ini sebagai gabungan koalisi politik secara luas, semakin mengemuka.
Justru hal menarik terjadi di tubuh PKS yang menurunkan Ahmad Mufti Salim untuk maju. Tidak main-main, partai yang memiliki empat kursi di parlemen ini langsung melakukan komunikasi politik cepat dengan beberapa partai koalisi tersisa, di antaranya NasDem dan PKB. Bahkan Demokrat ikut dilobi jika memang skenario Djohan yang juga Ketua DPC Demokrat Kota Metro tidak mendapat teman koalisi.
Suara dari PKS yang mengusung jargon Metro Bahagia ini, memberi sinyal telah menjalin kesepakatan internal dengan NasDem dan PKB. Khusus dengan PKB, santer disebutkan jika dukungan ini sebagai bentuk tukar guling dengan pilkada di Kabupaten Lampung Timur. Di sana, diisukan jika Deswan yang masih kerabat Wakil Gubernur Lampung Nunik, akan maju melawan petahana Saiful Bokhori. Dalam pertarungan itu, PKB yang akan mengusung Deswan akan berkoalisi dengan PKS, dan catatannya di Metro, PKB bersedia mendukung calon yang diusung PKS, yakni Ahmad Mufti Salim. Sementara NasDem kemungkinan akan menambah kuat koalisi itu lantaran Ketua DPC PKS Kota Metro Ahmad Khusaeni sempat melempar kalimat bersayap di media sosialnya yang menyebut Putih, Biru, dan Hijau berpelukan. Jika dianalogikan politik, Putih berarti PKS, Biru berarti NasDem atau Demokrat, serta Hijau yang berarti PKB.
Sementara Ketua Fraksi NasDem di DPRD Kota Metro Abdulhak menjamin jika partainya tidak akan mendukung Djohan dalam pilkada kali ini. Dengan demikian, NasDem yang sempat dihembuskan membangun koalisi dengan Golkar, diprediksi akan memperkuat barisan Ahmad Mufti Salim. Jika demikian, tidak ada lagi partai tersisa. Pilihannya adalah Demokrat mengusung calon selain Djohan. Dengan demikian, posisi Djohan sangat berat untuk kembali bertarung di pilkada kali ini. Kita lihat saja, siapa calon yang akan berpasangan nanti dengan Ahmad Mufti Salim. Yang jelas, tidak mungkin Mufti Salim menjadi calon wakilnya Djohan, dan sebaliknya Djohan tidak bisa menjadi wakil kembali karena terbentur aturan sudah dua periode. Silakan masyarakat yang menilai, siapa yang patut didukung untuk memajukan Kota Metro ke depan. (Hermansyah Albantani)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button