EDITORIALPOLITIK
Trending

Jangan Kaget, Pilkada Metro hanya Diikuti Tiga Calon

close
banner iklan melayang

METRO – Ketidakpastian adalah kepastian itu sendiri. Hal itu yang selalu saya katakan jika ditanya soal politik. Sekarang A, besok bisa B. Bukannya tanpa idealisme atau pelacur politik, tapi idealisme dalam politik tidak bisa tegak lurus. Belajar dari mentor politik saya yang tidak ingin saya sebutkan namanya, idealisme politik itu jalannya kadang harus melingkar untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan idealisme yang kita anut.

            Soal politik Kota Metro, politiknya masih sangat dinamis. Namun sudah mulai terbaca kemungkinan yang akan terjadi. Sedikit banyak sudah mulai bisa saya raba. Salah satunya adalah kemungkinan munculnya hanya tiga calon. Jika skenario yang saya gambarkan berjalan, maka bukan tidak mungkin hanya tiga calon. Tapi skenario yang saya gambarkan ini, bukan sembarangan skenario, minimal sudah terkonfirmasi. Kalau skenario ini meleset, minimal tidak jauh-jauh amat.

            Saat ini, setidaknya ada tiga pasangan kuat yang selalu dikaitkan. Mulai dari calon independen meski belum ditetapkan KPU yakni dr Wahdi-Qomaru, lalu ada Anna Morinda-Fritz Akhmad Nutzir, dan Ampian Bustami-Rudy Susanto. Setidaknya ketiga paslon itu sudah disosialisasikan akan bergandengan. Sementara yang belum berpasangan namun ada niat maju antara lain Djohan, Ahmad Mufti Salim, Andy Surya, dan Nasrianto.

            Skenario pertama yang paling mungkin terjadi adalah munculnya tiga pasangan calon. Hal ini melihat dukungan partai yang makin mengerucut. Pasangan pertama adalah Anna Morinda-Fritz Akhmad Nutzir yang diusung PDI Perjuangan dan NasDem. Bukan tanpa dasar, karena seharusnya rekomendasi PDI Perjuangan untuk 40 daerah pilkada termasuk Kota Metro keluar usai kongres Januari lalu di Jakarta. Namun urung, seiring masalah OTT KPK yang ikut menyeret-nyeret Hasto Kristianto yang merupaka sekjen partai. Oleh sebab itu, rekomendasi batal turun. Namun informasi sudah santer terdengar, bahwa rekomendasi partai sudah turun dan dikawinkan langsung dengan paket NasDem. Paket PDI Perjuangan dan NasDem diprediksi akan turun untuk Kota Metro dan Kota Bandarlampung.

            Selain itu, untuk pasangan kedua adalah Ampian Bustami-Rudy Susanto yang diusung Golkar dan PAN. Hampir sama dengan Anna-Fritz, pasangan yang masih terus dibayangi dengan upaya Andi Surya yang berharap dapat diusung Golkar ini, diprediksi akan melenggang dengan koalisi Golkar dengan PAN. Hal ini juga tergambar dari paket dukungan yang akan turun sama dengan paket pasangan di Lampung Tengah. Semakin kuat karena beberapa petinggi PAN ikut nimbrung dalam beberapa acara yang digelar Ampian-Rudy yang memiliki jargon Metro Berjaya itu.

            Pasangan ketiga ini yang lebih pelik. Hal ini terjadi lantaran mepetnya seorang Ahmad Mufti Salim yang akan turun gelanggang di pilkada Metro. Karena munculnya Mufti Salim memberikan dampak langsung dengan pencalonan Djohan dan Demokrat yang memang membutuhkan rekan koalisi untuk maju. Jika pasangan satu dan dua mendapatkan rekom seperti di atas, maka tersisa PKS, Demokrat, dan PKB yang memiliki kursi di parlemen. Masing-masing partai tidak bisa mencalonkan sendiri, mereka butuh koalisi. Yang artinya, salah satu mendapat teman koalisi, maka satunya dipastikan tidak bisa mengusung calon sendiri.

            Pasangan ketiga ini, skenario yang paling mungkin terjadi adalah Ahmad Mufti Salim maju sebagai calon Walikota Metro. Oleh sebab itu, komunikasi politik terus dilakukan oleh PKS. Salah satunya adalah sowan ke Djohan sebagai Ketua DPC Demokrat Kota Metro. Bukan ingin menggandeng Djohan, karena keduanya sama-sama tidak bisa dan tidak mau menjadi calon wakil walikota. Oleh sebab itu, kedatangan Ahmad Mufti Salim dan rombongan adalah untuk meminta dukungan Demokrat untuk pilkada kali ini. Gayung bersambut, sekaligus tanda lempar handuk dari Djohan bahwa tidak akan maju dalam pilkada kali ini. Hal ini tampak dari sinyal politik yang disampaikan Ketua DPC PKS Kota Metro Ahmad Khusaeni yang mengatakan Putih, Biru, dan Hijau berpelukan. Jika sebelumnya saya berpikir Biru di sini adalah NasDem, ternyata Biru di sini adalah Demokrat, Putih itu PKS, dan Hijau itu PKB.

            Ada alasan kuat mengapa PKB memberikan dukungannya untuk calon yang diusung PKS. Karena ternyata tersiar kabar, bahwa hal ini merupakan dukungan paket untuk wilayah di Lampung Timur. Dimana di Lampung Timur PKB ingin mengusung Deswan yang merupakan kerabat Chusnunia Chalim Wakil Gubernur Lampung, dalam hal ini PKS menjadi salah satu partai pengusungnya. Sehingga konsekuensi politiknya, PKB Metro akan memberikan dukungannya untuk calon yang diusung oleh PKS. Namun masih ada skenario lain, bahwa PKB diprediksi akan masuk gerbong Golkar dan PAN untuk mengusung Ampian Bustami-Rudy Susanto. Namun demikian, meskipun skenario itu terjadi, koalisi PKS dan Demokrat tetap bisa mengusung calon walikota dan wakil walikota.

            Pertanyaannya kemudian, siapakah yang akan menjadi tandem Ahmad Mufti Salim. Di sinilah kunci dari skenario ketiga ini. Melihat slot yang ada, Ahmad Mufti Salim bisa saja menggandeng dr Wahdi yang saat ini berpasangan dengan Qomaru untuk maju lewat jalur independen. Namun secara kalkulasi politik, sangat jarang dalam sejarahnya calon independen menang. Dari 10 jari, tidak sampai satu kali calon independen menang. Namun melihat semangat dan perjuangan yang dilakukan dr Wahdi, pasti mengharapkan kemenangan dalam pertarungan politik ini. Pilihannya akan lebih mudah jika melalui jalur parpol. Hal ini bisa saja terjadi, karena memang KPU belum menetapkan sebagai pasangan calon. Tidak ada pidana yang dilanggar jika dr Wahdi mundur dari pencalonan.

            Namun, apakah semudah itu saja Demokrat memberikan dukungan kepada PKS tapi tidak mengusung kadernya sendiri? Tentu itu menjadi perhitungan sendiri. Bukan tidak mungkin Demokrat akan memberikan tiketnya kepada dr Wahdi karena memang paling bisa diterima semua kalangan. Tapi tidak bisa juga dikesampingkan calon yang mendaftar ke Demokrat. Di antaranya Kusbani yang berpotensi menjadi wakil Demokrat. Bisa saja terjadi, namun melihat sejarah tarik ulur selama pilkada Kota Metro ini, dr Wahdi lebih dekat kepada Djohan. Jadi bukan tidak mungkin skenario ketiga ini, akan memunculkan pasangan Ahmad Mufti Salim-dr Wahdi. Dengan demikian, pasangan independen akan tidak muncul.

            Dengan skenario politik ini memang kejam, karena artinya hilangnya kesempatan Djohan dan Andy Surya untuk bertarung di pilkada Metro. Tinggal bagaimana masyarakat menilai, siapakah yang paling layak menjadi pemimpin Kota Metro ke depan. Sekali lagi saya sampaikan, dalam politik, ketidakpastian adalah kepastian itu sendiri. (hermansyah albantani)

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Jangan Biasakan Copy Paste Bro !!! Gua Tau Lu...
Close
Close