NEWSPOLITIK

Ini Pendamping Mufti Salim

close
banner iklan melayang

TIKET pencalonan sudah digenggaman. Seperti yang kita ketahui, secara prinsip baru Ahmad Mufti Salim yang memegang surat rekomendasi yang ditandatangani langsung oleh Ketua Umum PKS Sohibul Iman dan Sekretaris Jenderal PKS Mustafa Kamal, hanya rekomendasi NasDem yang masih ditandatangani Wakil Ketua Umum dan Koordinator Pemenangan Pemilu yang juga putra mahkota Prananda Surya Paloh. Sisanya, termasuk Anna Morinda-Fritz baru mengantongi surat tugas dan belum ditandatangani ketum.

Tapi masih ada satu tugas pelik yang harus dituntaskan Ahmad Mufti Salim (AMS). Salah satu yang paling krusial adalah penentuan posisi bakal calon wakil walikota. Seperti yang sudah saya ulas beberapa waktu lalu, ada beberapa kans bakal calon wakil walikota yang memang masuk daftar penjajakan. Nanti kita ulas satu per satu baik dari sisi politis ataupun hitung-hitungan pemenangan, sehingga teman-teman bisa menarik kesimpulan sendiri kira-kira siapa yang cocok. Sehingga bisa membantu Mufti Salim untuk menentukan siapa calon wakilnya untuk maju.

Sebenarnya ada kemudahan yang paling mendasar yang dimiliki Mufti Salim, yakni penentuan bakal calon wakilnya diserahkan sepenuhnya oleh keputusannya. Kalau biasanya orang kesulitan menentukan pilihan karena terlalu sedikit yang dipilih, kali ini kasusnya beda, Mufti bingung karena banyaknya pilihan yang tersedia. Sehingga parameter hitungnya menjadi lebih banyak, karena semuanya mempunyai kapabilitas dan kapasitas menjadi pemimpin.

Kalau dianalisa sebelumnya masih sangat luas, sekarang ruang pilihannya kita persempit. Kita mulai dari NasDem yang belakangan menganulir dukungannya dan lebih memilih merekomendasikan untuk Mufti Salim. Seperti yang kita ketahui, ada tiga orang yang mendaftar ke NasDem dengan mengajukan sebagai bakal calon wakil walikota. Di antaranya Shaleh Chandra, Abdulhak, dan Fritz Akhmad Nuzir. Dari ketiga tokoh di atas, sejatinya nama Shaleh Chandra paling kuat. Namun seiring manuver politik yang dilakukan pasca rekomendasi NasDem turun ke Anna-Fritz yang kemudian dianulir, sedikit banyak mempengaruhi psikologis Mufti Salim dan PKS. Banyak kalangan yang menilai terlalu cepat langkah manuver Shaleh tersebut untuk mendukung Anna-Fritz padahal beliau digadang-gadang bakal mendampingi Mufti Salim. Bisa dilihat dari baliho keduanya yang tersebar di sepanjang jalan dan berpasangan. Kansnya masih mungkin, tapi sudah tidak sebesar sewaktu dulu.

Kans kedua ada pada Ketua Fraksi NasDem DPRD Kota Metro Abdulhak yang juga mendaftarkan diri sebagai bakal calon wakil walikota. Secara prinsip, Abdulhak relatif lebih clear karena pasca keputusan NasDem yang pertama, Abdulhak belum menunjukkan tanda-tanda dukungan. Apalagi dalam beberapa kesempatan, Abdulhak sangat keras bahwa ia masih menginginkan Shaleh Chandra atau kader NasDem mendampingi Mufti Salim. Sehingga NasDem tidak hanya jadi partai pelengkap jika mendukung calon dari PDI Perjuangan yang memang secara kursi sudah tidak membutuhkan dukungan di parlemen lagi, sehingga benar-benar berjuang bersama calon walikotanya. Namun pertanyaannya, seberapa kuat finansial Abdulhak untuk mengarungi pemilihan walikota ini? Secara popularitas mungkin Abdulhak termasuk yang paling tinggi berdasarkan hasil survei, tapi bagaimana dengan kesiapan finansial yang konon katanya membutuhkan miliaran rupiah untuk menggerakkan mesin pemenangan itu? Tapi sebenarnya celah finansial bisa disiasati, tinggal jatuh ke siapa rekomendasi itu.

Kans ketiga dan sebenarnya paling mumpuni adalah masuknya nama Fritz Akhmad Nuzir. Ya, sekali lagi, dalam politik ketidapastian adalah kepastian itu sendiri. Karena berulangkali NasDem provinsi dan pusat mengatakan, bisa saja nanti DPP mengeluarkan satu nama wakil yang akan mendampingi Mufti Salim. Secara aturan main, tidak salah jika DPP NasDem mengeluarkan nama Fritz Akhmad Nuzir. Karena secara mekanisme penjaringan, Fritz memang sudah mendaftar. Ini juga memudahkan NasDem dalam mengambil langkah politiknya ke depan. Kesiapan maju, sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Ide dan gagasan sudah muncul, ditopang pula dengan ayahanda Lukman Hakim yang memang sudah dua periode menjadi Walikota Metro. Minimal ilmu dan pemahaman pembangunan yang berkesinambungan bisa ditularkan. Tapi pertanyaannya, bisa kah lobi ini dilakukan mengingat Fritz sudah dijodohkan dengan Anna Morinda? Tidak ada yang tidak mungkin dalam politik, apalagi kedekatan Lukman Hakim dengan petinggi DPP NasDem sudah tidak diragukan lagi. Ditambah lagi memang surat rekomendasi dari PDI Perjuangan belum ditandatangani ketua umum. Mungkin saja terjadi, jika memang tawaran NasDem untuk Fritz dengan keluarnya rekom berpasangan dengan Mufti Salim dan langsung ditandatangani oleh Surya Paloh, layaknya rekomendasi PKS yang memang sudah ditandatangani Sohibul Iman dan Mustafa Kamal. Karena salah satu yang dibutuhkan adalah kepastian politik dalam hal ini surat rekomendasi.

Sekarang kita ulas pilihan di luar NasDem. Jika memang ketiga tokoh di atas menemui jalan buntu dalam hal lobinya, kemungkinan dari eksternal sangat bisa terjadi. Apalagi NasDem memang menyerahkan sepenuhnya kepada Mufti Salim. Kartu AS ada di Mufti Salim. Melihat petanya, yang paling mungkin saat ini ada tiga, yakni Welly Adiwantra (WAW), Rahmad Darmawan, dan Aisyah Djohan.

Kenapa nama Welly Adiwantra masuk dalam eskalasi. Pertama karena secara teritorial WAW paling mungkin mendongkrak suara dalam pemilihan. Posisinya yang saat ini adalah Kepala Badan Kepegawaian Daerah Kota Metro dan Ketua Karang Taruna Kota Metro yang memang sudah bergerak mesinnya dalam dua tahun terakhir, sangat sayang jika tidak diberikan peluang maju. Di kalangan milenials untuk saat ini Anna Morinda unggul, namun dengan masuknya WAW ke Mufti Salim, bisa semakin memperkuat basis milenials. Yang jelas irisan mata pilihnya berbeda dengan Mufti Salim yang lebih kepada keumatan. Usia yang masih muda dan gagah, menjadi pesona lebih yang bisa menggaet pemilih pemula. Namun apakah orangtua merestui? Dalam politik masih sangat mungkin terjadi, apalagi kemungkinan WAW mengambil perahu Golkar sangat kecil. Tapi dengan bergabungnya WAW ke Mufti, Pairin sebagai orangtua bisa saja merestui karena itu artinya memanfaatkan momentum untuk bermain di dua kaki. Calon dari Golkar tetap bergulir, anak mantunya tetap bisa maju dengan Mufti dengan basis PKS dan NasDem. Bukan tidak mungkin jika Mufti Salim-WAW menang dalam pilkada, pucuk pimpinan DPD II Golkar Kota Metro bisa diambil alih dari ayahandanya.

Opsi kedua dari eksternal adalah Rahmad Darmawan. Mantan pelatih timnas Indonesia yang pernah bermain untuk sepakbola Kota Metro ini, sudah mengirimkan sinyal dukungannya untuk Mufti Salim. Secara prinsip, pria yang akrab disapa coach RD itu berharap Mufti Salim menang dalam pilkada Kota Metro. Hal ini karena dia melihat Mufti Salim merupakan sesosok ustadz yang diakuinya sangat rendah hati dan membumi. Namun coach RD dalam posisi on call dan siap kapan saja dipanggil untuk dikomunikasikan.

Yang ketiga adalah Aisyah Djohan yang tak lain istri Wakil Walikota Metro saat ini. Peluang ini sangat mungkin jika seandainya terjadi deal politik dengan Demokrat yang diketahui memang belum ada sinyal-sinyal partai koalisi. Jika memang Djohan dan Demokrat tidak mendapat teman koalisi, ada kemungkinan bergabung dengan gerbong Mufti Salim tentunya dengan syarat yang disepakati. Aisyah sangat potensial karena selain ibu-ibu PKK, ia juga merupakan eselon II di Pemkot Metro. Basis Djohan ditambah dengan basis keluarga besarnya masih sangat besar untuk menambah perolehan suara pasangan itu.

Sekarang tinggal Mufti Salim dan pembaca menilai. Kira-kira, siapa yang paling pas dan bisa membawa Kota Metro lebih baik ke depan. Karena prinsip saya begini, semakin banyak calon berkualitas yang muncul, semakin baik untuk warga Kota Metro. Semakin bisa memberikan pilihan yang sesuai yang lebih spesifik bisa menyentuh ke hati para pemilihnya. Dengan harapan saat mereka terpilih nanti, baik Mufti Salim, Anna Morinda, Wahdi, Ampian Bustami, atau Andi Surya bisa dekat dengan rakyatnya dan kebijakannya bisa menyentuh langsung ke akar rumput. Itu lebih penting daripada hanya sekadar politik transaksional. Selamat memilih. (hermansyah albantani)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Jangan Biasakan Copy Paste Bro !!! Gua Tau Lu...
Close
Close