ARTIKELPEMBACA

Bagaimana Membesarkan Sekolah?

close
banner iklan melayang

RADARMETRO.ID – Sekolah besar merupakan impian semua orang, terutama bagi mujahid ilmu. Banyak praktisi pendidikan yang menginginkan sekolahnya menjadi besar, namun tidak mengetahui bagaimana cara membesarkannya, sehingga bingung dari mana harus mengawalinya.

Cara paling mudah dan praktis untuk membesarkan sekolah antara lain, pertama dengan cara sering berkumpul. Meskipun sekolah kecil jika sering berkumpul yakni dengan mengadakan pertemuan untuk berdiskusi, sharing dan sebagainya maka akan merasa besar. Sebaliknya, jika sekolah besar, namun tidak pernah berkumpul, maka dengan sendirinya akan menjadi kecil, dan kemungkinan akan dikucilkan.

Kedua, dengan cara bermimpi. Mimpi adalah sesuatu yang tidak berbiaya. Mimpi merupakan harapan awal dari suatu keinginan dan angan-angan. Bermimpi menjadikan sekolah besar, tentu boleh saja. Sebab dengan mimpi kita akan berusaha untuk mewujudkannya. Salah satunya adalah dengan membuat rencara-rencana renstra (strategis) sekolah impian tersebut.

Sukses milik siapa saja, tidak kenal ruang dan waktu, tidak mengenal kaya dan miskin, tidak memihak cerdas dan tidak cerdas. Sukses milik siapa saja yang mau bekerja dan berusaha di luar batas kewajaran, dan bekerja secara ‘tidak normal’.

Bekerja di luar batas kewajaran adalah bekerja di atas rata-rata orang lain. Guru bekerja dari pagi sampai siang sesuai jam mengajar, berarti masih sebatas melakukan kewajiban, karena memang diupah sebatas sampai pada jam tersebut. Sedangkan orang yang bekerja secara ‘tidak normal’, akan bekerja di luar jam tersebut sampai sore bahkan sampai malam hari.

Jika sumber daya manusia di sekolah sudah memiliki etos kerja tanpa batas, maka sekolah tersebut akan menjadi besar.

Ketiga, linierkan hati. Banyak praktisi pendidikan selalu menyampaikan bahwa pendidikan itu harus linier, dan itu tidak salah. Kondisi yang terjadi di sekolah, banyak pendidik yang berlatar belakang pendidikan tidak linier, bahkan tidak sedikit yang tidak berlatar belakang pendidikan. Inilah kondisi nyata yang sekarang masih terjadi. Namun, konsep paling utama yang harus dilakukan sebenarnya adalah melinierkan hati, yaitu satu fiqroh (pemikiran) menuju visi misi sekolah. Sulit rasanya untuk mengembangkan sekolah manakala SDM-nya tidak satu fiqroh.

Keempat, keyakinan. Untuk mewujudkan mimpi atau renstra harus dilakukan dengan penuh keyakinan. Menetapkan renstra dapat diawali dengan melakukan analisis SWOT. Sehingga kita tahu persis kelebihan maupun kekurangan kita, peluang dan ancaman kita. Sehingga apa yang akan kita lakukan berdasarkan analisa yang telah dilakukan. Langkah yang diambil harus sesuai dengan kondisi dan tantangan ke depan. Keyakinan merupakan kunci keberhasilan untuk mewujudkan renstra.

Kelima, promosi sekolah. Dalam membangun sekolah, pertama yang harus dipahami bahwa memiliki semangat yang lebih dapat dijadikan sebagai pendorong kemajuan sekolah. Jangan cepat puas dengan capaian yang diperoleh. Jangan merasa kecil, bangunkan rasa optimis.

Promosi merupakan strategi jitu untuk mengenalkan sekolah kepada khalayak. Menyampaikan kepada masyarakat tentang fasilitas dan pelayanan sekolah, baik sarana maupun kegiatan warga sekolah. Hal ini sangatlah penting, karena sehebat apapun lembaga sekolah, sekreatif apapun kegiatan kita, sebanyak apapun prestasi yang diraih, namun jika tidak mempublikasikan kegiatannya, maka akan hilang. Sebab memberikan
informasi bertujuan agar sekolah dapat diketahui oleh masyarakat luas.

Kegiatan promosi, pada awal mula digunakan oleh perusahaan besar, untuk mengenalkan produknya, supaya produknya digemari semua masyarakat. Maka, jangan pernah berhenti melakukan promosi. Inilah yang juga harus dilakukan oleh sekolah jika ingin dikenal oleh masyarakat.

Keenam, problem solver. Sekolah merupakan elemen yang harus mampu menjadi problem solver bagi siswa, wali murid, guru serta karyawan. Bagi siswa, sekolah harus mampu menyelesaikan permasalahan semua siswanya, terutama dalam ketertinggalan belajar, prestasi dan perkembangan keberbakatannya. Bagi wali murid, sekolah harus mampu menjawab semua keinginan wali murid dalam menghantarkan putra-putrinya sesuai keinginan orang tua dan bakat putranya dan termasuk wali murid yang bermasalah dalam keuangannya. Sekolah juga harus mampu memberikan jalan keluar bagi guru dan karyawannya, bahkan mungkin tentang urusan pribadinya. Jika mereka diperhatikan dan diberi jalan keluar dari berbagai masalah, maka dengan sepenuh hati akan loyal terhadap sekolahnya. (ZAENAL ABIDIN, M.Pd.I, Kepala SD Aisyiyah Metro)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Jangan Biasakan Copy Paste Bro !!! Gua Tau Lu...
Close
Close