EDITORIALNEWS

Ambulan Politik

close
banner iklan melayang


NIAT baik tidak selalu mendapatkan respons yang baik pula. Itulah yang terjadi saat ini, apalagi musim politik atau saat pemilihan kepala daerah atau anggota dewan. Selalu ada pemikiran ada udang di balik batu, karena secara naluriah kita lebih suka kepo. Salah satu yang paling hot saat ini adalah banyaknya ambulan dengan tempelan si calon maupun lambang partai politiknya. Padahal mungkin niatnya baik, yakni sebagai salah satu bentuk sosial atau kalau boleh pinjam bahasa perusahaan swasta ‘penyaluran CSR’ partai politik karena sudah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat sehingga dapat menempatkan wakilnya melalui parpol tersebut. Tapi tidak selalu mendapatkan respons yang baik, karena ada identitas di situ.
Tapi, tidak sedikit pula yang menilai hal itu sebagai bentuk ria. Kalau saya boleh menyitir kata kata kawan saya, sosial kok ada tempelannya. Benar juga sih. Saya tertarik membuat tulisan ini, setelah beberapa hari lalu saya mendapatkan laporan dari rekan, katanya ada penolakan warga atas adanya ambulan politik di rumah duka. Tapi jika dipikir, ada memang orang-orang yang mempunya prinsip atau pilihan politik yang sangat kuat. Jika menemukan orang seperti itu, dipastikan akan ada penolakan jika saat keluarganya tertimpa musibah dan dibantu oleh ambulan politik itu tadi. Di sini ada dua kemungkinan bagaimana ambulan politik itu bisa sampai datang ke lokasi rumah duka, satu karena memang dihubungi yang kedua karena insiatif dari partai atau orang partai atau sopir ambulan politik itu sendiri. Tapi jika terjadi penolakan, sepertinya kecil kemungkinan jika keluarga yang menghubungi ambulan politik tersebut.
Tapi begini, terlepas ada udang di balik batu atas adanya ambulan politik itu tadi di musim politik, setidaknya kita harus melihat sisi positipnya. Di tengah kondisi wabah Corona saat ini, dimana ekonomi benar-benar terguncang, rasanya kita harus bersyukur dengan adanya ambulan politik ini. Mengapa? Di masa biasa saja tanpa wabah Corona, kita sering mendengar dan membaca berita ada orangtua yang menggotong anaknya yang sudah meninggal untuk pulang ke rumah naik angkot karena tidak punya biaya untuk menyewa ambulan. Mungkin bagi sebagian orang biaya itu tidak ada artinya besarannya, tapi bagi sebagian orang lagi, uang itu cukup untuk menambah kelangsungan hidup keluarga yang ditinggalkan. Dengan adanya ambulan politik, setidaknya keluarga yang berduka tidak dikenakan biaya apa pun (mungkin bantu beli bensin jika jaraknya kelewat jauh, mungkin ya karena saya juga belum pernah mencoba). Sehingga keluarga yang berduka bisa terbantu kesusahan hatinya.
Tapi kembali lagi, prinsip masing-masing kita berbeda. Apalagi beda pandangan politik yang bisa berimplikasi kemana-mana. Setidaknya saya berharap, ambulan politik bisa menjadi solusi di tengah ekonomi yang serba sulit ini. Jika kita menolak, sampaikan dengan santun tanpa harus saling melukai. Karena menurut saya, menggunakan ambulannya bukan berarti harus memilih calonnya atau partai politiknya. Tapi maknai sebagai salah satu gerakan penggalangan sosial dari partai politik yang dalam konstitusi menjadi salah satu cara untuk mencapai kedudukan legislatif dan eksekutif. Sikapi dengan bijak, belajar positif thinking, dan biasakan menerima perbedaan. Karena ketulusan niat itu akan dibuktikan dengan seiring perjalanan waktu. Jadilah pemilih cerdas. (hermansyah albantani)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Jangan Biasakan Copy Paste Bro !!! Gua Tau Lu...
Close
Close