NEWS

Terlambat Pembayaran BBM, Puluhan Supir Truk Sampah Hentikan Operasional

RADARMETRO. ID – Puluhan tenaga harian lepas (THL) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Metro menggelar aksi mogok kerja. Aksi tersebut sebagai buntut adanya keterlambatan administrasi pembayaran bahan bakar minyak (BBM) untuk kebutuhan armada truk sampah di dinas setempat. Akibatnya para supir tidak dapat beroperasi untuk mengangkut sampah di lingkungan rumah warga.

“Kita ini nggak bisa isi BBM di SPBU. Kalau nggak ada BBM bagaimana kita mau jalan. Maka kita semua ke kantor, kita tanya ke yang berkompeten menanyakan ini,” ujar salah seorang THL pengangkut sampah yang enggan disebutkan namanya, Rabu (18/5/2022).

Ia mengaku, biasanya mendapatkan BBM dari pengisian bahan bakar umum (SPBU) 24.341.09 Metro Barat. Besarnya BBM yang diberikan 15 liter per hari per truk. “Biasanya kita ambil BBM itu di Pertamina Ganjar Agung. Kalau banyaknya 15 liter per mobil truk per hari,” jelasnya.

Dikonfirmasi awak media, Kepala DLH Kota Metro, Irianto Marhasan menjelaskan bahwa, BBM tidak dapat diambil oleh petugas pengangkut sampah lantaran adanya kesalahan administrasi. Kondisi ini mengakibatkan keterlambatan pembayaran.

“BBM ini dikatakan sulit juga tidak, karena ini ada pergantian pejabat pengadaan. Jadi yang baru belum banyak tahu, jadi hanya keterlambatan SPJ saja. Tapi hari ini sudah masuk transfer,” jelasnya.

Ia mengaku telah berkoordinasi dengan pihak SPBU untuk memastikan seluruh armada angkutan dapat kembali beroperasi. Sehingga sampah warga bisa diangkut sampah siang ini.

“Nanti siang sudah bisa operasional lagi. Kita sudah hubungi SPBU, juga sudah oke. Satu wilayah cukup waktunya kita angkut dalam sehari. Kejadian ini baru ini terjadi,” ungkapnya.

Sementara itu, Kabid Pengelolaan Sampah DLH Kota Metro, Dedi Alfian menjelaskan, masalah ketersediaan BBM armada truk bukan persoalan yang rumit. Menurutnya, ada 21 armada truk yang pagi ini belum jalan karena belum ada BBM.

“Tapi nanti sudah bisa diambil karena persyaratan untuk pencairannya sudah pada lengkap semua. Ini cuma hari ini saja. Sebenarnya tidak terjadi masalah karena berkas itu ada kesalahan-kesalahan, maka kita lengkapi dan yang salah kira perbaiki. Jadi agak terlambatnya karena itu,” paparnya.

Ia menerangkan bahwa masing-masing armada mendapatkan jatah 5.250 liter solar per truk pertahun. Maka jika ada 21 armada truk, DLH mengeluarkan kocek diperkirakan senilai Rp 567.787.500 atau sebanyak 110.250 liter, jika harga solar diangka Rp 5.150 perliter.

“Dengan kesalahan berkas itu, maka pencairan ke Pertamina agak terlambat dan pagi ini sudah dibayar. Kalau anggarannya sudah ada dan tidak ada masalah. Anggaran satu mobil truk itu 15 liter perhari. Tinggal dikalikan 350 hari dan dikali 21 truk itu besaran anggarannya setahun,” tukasnya. (ria)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button