NEWS

Peserta Festival Catur, Mulai dari Tuna Netra sampai Lansia Umur 73 Tahun

RADARMETRO.ID – Donny Saputra, pecatur tuna netra dan Mbah Djunaidi lansia berumur 73 tahun turut andil menjadi peserta saat pekan kelima kejuaraan Festival Catur Metro 2021 kategori Umum Non-Atlet yang diadakan oleh Sekolah Catur Metro (SCM) berkolaborasi dengan Radar Metro yang bertempat di Graha Pena Radar Metro, Sabtu (11/12/2021).

Antusias pecatur dari semua kalangan terlihat sejak pagi di Graha Pena Radar Metro di Jalan Brigjend Katamso, Nomor 18, Kelurahan Ganjarsari, Kecamatan Metro Barat, Kota Metro. Yang menarik pada kejuaraan catur ini, adanya pecatur yang memiliki jenjang usia terpaut jauh antara peserta satu dengan peserta yang lain. Selain itu ada satu peserta dengan keterbatasan penglihatan atau tuna netra menjadi salah satu peserta pada pekan kelima Festival Catur Metro 2021.

Donny Saputra, pecatur tuna netra dari Desa Tanjung Kesuma, Purbolinggo, Lampung Timur. Pecatur yang sudah menginjak usia 32 tahun ini tampil dengan semangat tinggi, keterbatasan yang dia punya tidak menjadi halangan untuknya menjadi pecatur andal. Donny mengaku bahwa permainan catur sudah ditekuni sejak tahun 2016.

“Awal mula belajar catur itu 2016, kadang-kadang latihan bermain dengan game online itu Mas, terus diajarin suruh buka-buka buku sama lihat partai-partai catur orang,” ungkapnya.

Donny mengungkapkan bahwa ketidakmampuan melihat atau tuna netra yang ia derita saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia mengalami insiden benturan saat bermain bola dan diperparah dengan masuknya asap bercampur abu dari permainan long (Meriam Bambu).

“Penyakit ini kan bukan dari lahir Pak, saya bisa bermain catur sebelum seperti ini. Dulu sewaktu SMP kepala saya terbentur lutut kawan saat main bola, nah itu udah mulai sering berkunang-kunang saat melihat, terus saat bermain long itu ketika saya tiup dari bolongan kecil, kalau gak ditiupkan itu suaranya gak keras, nah keluar asap bercampur abu itu yang mengenai mata, seketika Mas mata ini kayak tertutup awan sampai sekarang,” ungkapnya.

Penyakit yang menimpanya tidak menjadikan Donny melupakan catur, ia terus belajar dan melatih daya ingat dengan menghafalkan langkah-langkah untuk menyelesaikan catur yang memiliki 64 petak di dalamnya. Walaupun kesulitan, Donny mampu menghafalkannya hanya dengan waktu satu pekan.

“Tentunya kesulitan Pak, dulunya kan sudah bisa, terus saya ngapalin 64 petak yang ada A1, B2, B3, B4 dan seterusnya. Aku dulu ngapalin cuman butuh waktu 1 pekan Pak,” tambahnya.

Hadirnya pemain catur yang memiliki keterbatasan penglihatan, membuat peserta memakluminya. Sehingga panitia kejuaraan Festival Catur Metro 2021 menugaskan Rama selaku panitia di dalamnya untuk membacakan notasi agar Donny bisa bertanding secara maksimal melawan pecatur normal.

Donny berharap dengan keterbatasan yang juga dirasakan oleh orang-orang lain, pemerintah turut peduli dan mendukung yang berada di daerah, sehingga nantinya juga bisa mengikuti ajang perlombaan di tingkat nasional sampai internasional.

“Pemerintah Lampung sepertinya kurang peduli dan mendukung sama pecatur tuna netra ini, harapan saya ya kayak kami ini didukung lah agar dari daerah-daerah lain bisa ikut ajang PON, multi event Sea Games, maupun Asean Games untuk disabilitas,” pungkasnya.

Selain Donny, pecatur tuna wisma dari Lampung Timur, kisah inspiratif juga dibagikan oleh pecatur tertua saat kejuaraan Festival Catur Metro 2021 kategori Umum Non-Atlet.

Djunaidi Timbasz, laki-laki ini sudah menginjak usia 73 tahun yang berasal dari Seputih Jaya, Lampung Tengah. Saat ditemui radarmetro.id, ia membagikan wawasan untuk para pecatur muda harapan bangsa.

“Mau belajar catur? Baca buku, praktek, paham posisi sewaktu menyerang dan bertahan,” ungkapnya. (Naim)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button