NEWS

Penguatan Etika Moral / Akhlak Bagi Anak

Agus Wirdono, Oktoria Subarkah H
Mahasiswa Pascasarjana Fisip Universitas Lampung

Media di kagetkan dengan tindakan oknum muda mudi yang bermesraan terlalu berlebih-lebihan, di seputaran Bandar Lampung, hal ini membuat seorang guru merekam dan mengunggahnya ke media sosial, meskipun ungkapan kekesalan guru tersebut, walau pada akhirnya meminta melalui video yang di unggahnya, terkait perekaman yang dibuatnya. Perilaku menyimpan yang dilakukan oleh inisial S yang berada di bandara yang ada di Jogjakarta, dan masih banyak lagi perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anak dan remaja yang membelalak mata kita, tentu bagi orang tua yang kelahiran ditahun 1970-1980, sangat jauh dari harapan yang ditanamkan pada orang tua terdahulu.
Hal ini menjadi masalah individu dalam penerapan etika moral dalam bermasyarakat, bahwa manusia memiliki nalar yang lebih baik dari pada hewan, perihal ini mendapat kecaman dari para netizen yang melihat video kurang pantas tersebut. Melihat kondisi bangsa Indonesia menganut budaya ketimuran. Yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika moral dari terdahulu bangsa ini. Tidak sampai disitu, apabila melihat di media sosial, hingar bingar remaja dan anak, tentu juga akan menjadi perhatian dalam tatanan nilai moral bangsa Indonesia.
Peran Serta Orang Tua


Penanaman nilai-nilai luhur dari orang tua, memang sudah tertanam sejak dahulu, mengedepankan budaya ketimuran menjadi akar dan pondasi awal pembentukan karakter generasi penerus bangsa, apabila melihat kejadian semacam ini, tentunya orang tualah yang pertama akan menanggung dosa, (apabila belum akil baligh), pertanyaan, apakah tidak sayang dengan orang tua nya?


Banyak juga yang dari keluarga mampu, namun dalam menerapkan pola didik pada anak terabaikan, sehingga anak akan mencari jalan sendiri yang dianggap mampu menjadi penguat pada dirinya, meskipun terkadang anak tersebut dalam mencari jati dirinya masih di katakan kurang baik, dalam pandangan orang tua. Disitulah orang tua menjadi pondasi awal dalam mendidik anak, guna mendapatkan generasi yang baik, dalam sikap dan kepribadian, sebagai generasi penerus orang tua.
Perhatian orang tua, terhadap anak adalah bentuk kasih sayang yang harus terus di rawat dalam tumbuh kembang anak, terlebih di masa pertumbuhan, inilah yang akan menjadi akar dalam penguatan etika, memposisikan anak pada fase yang tepat, diantaranya dari segi usia, dari anak menjadi teman, sahabat, akan membuat anak semakin yakin dalam menjalani kehidupan, dengan demikian, keluh kesah anak dapat di curahkan dengan gamblang oleh anak. Kontrol sosial terhadap anak lebih mudah dalam menghadapi situasi sesulit apapun bagi anak.


Peran Serta Pemerintah
Pemerintah memegang kendali penting dalam mengurus bangsa ini, terlibat dalam tindakan yang dilanggar oleh masyarakat, baik itu tatanan nilai maupun yang dapat meresahkan masyarakat, pemerintah sebenarnya tidak kurang-kurang produk hukum yang dapat menegakkan sebuah tatanan nilai suatu daerah guna mendapatkan ketentraman dan kedamaian di lingkungannya masing-masing.


Upaya dinas terkait, harus lebih diintensifkan dalam menjaga wilayahnya, dalam menanggulangi isu publik, ataupun tindakan masyarakat yang dianggap menyimpang dari tatanan nilai maupun dari regulasi, yang ada di suatu daerah, agar masyarakat mendapatkan ketentraman dan kenyamanan, dalam aktivitas masyarakat. Sehingga akan terwujud etika nalar yang kritis, yang bersih positif bagi kemajuan sebuah daerah.
Pemerintah dapat berperan sebagai pengayom dalam kehidupan anak, seperti malalui Kebijakan atau produk hukum yang memisahkan antara anak dan orang dewasa, hal ini gencar dilakukan oleh pemerintah, dalam mengayomi, serta meminimalisir tidak kejahatan yang dilakukan oleh anak-anak, dengan terus melakukan kontribusi terhadap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah melalui stakeholder yang menjadi tanggung jawab pemerintah.


Akhlak / Etika Kunci Utama Pemuda
Etika menurut Bertens (1977) adalah tatanan nilai-nilai, dan norma moral yang menjadi tolak ukur seseorang, dalam bersikap bertindak, dan mengambil keputusan, berdasarkan hati nurani tanpa disengaja. Perkembangan zaman semakin berubah, era digital semakin merajalela lela, hanya Pemuda yang mempunyai jiwa yang besar, yang akan mampu memanajemen kecanggihan teknologi, dengan sikap dan tingkah laku yang santun, menggunakan fasilitas tekhnologi dengan bijak, sebab adanya seseorang mempunyai tinggi jenjang pendidikan, seberapa hebat jabatan, maka akan dapat diukur dengan cara dia bersikap.


Jika merujuk pada apa yang pernah dikatakan nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bahwa, beliau (nabi) diturunkan ke muka bumi ini hanya untuk memperbesar akhlak, “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR Al-Baihaqi dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu). mengingat bahwa menurut sejarah bangsa arab pada masa itu adalah masih zaman jahiliah, dimana akhlak / etika itu masih sangat minim sekali. Apa yang bisa kita petik hikmah tersebut, bahwa jangan sampai saat ini para pemuda masih menggunakan cara-cara jahiliyah dalam setiap menjalankan fungsinya sebagai warga masyarakat, diberbagai sektor, seperti ekonomi, politik, sosial budaya, harus menerapkan pemikiran-pemikiran yang mampu membawa perubahan lebih baik, dibanding zaman jahiliah.


Sehingga pada pelaksanaannya, para pemuda mampu bersaing dengan dunia luar, dengan tetap mengedepankan nilai luhur pendiri bangsa ini, yang berlandaskan agama sebagai aspek dasar moralitas dalam setia pergerakan para pemuda Indonesia yang akan meneruskan cita-cita pendiri bangsa ini.
Agama dan Sumber Etika Moral


Korelasi agama pada etika moral sangat melekat, akan tercermin dari manusia yang berbudi pekerti luhur, dapat dikatakan bahwa etika dan agama adalah dua hal yang saling berkaitan, dan bersinggungan diantaranya. Agama mendorong pemuda untuk mencapai tatanan etika dalam bernegara, begitu juga negara, merupakan instrumen dalam mengurus suatu bangsa yang berkemajuan, etika moral dalam kehidupan sangat penting dalam kehidupan dan berbangsa dan bernegara.


Terciptanya moral, tidak terlepas dari agama, yang menuntunnya kedalam nilai sebuah moral yang, yang dapat menyatukan bangsa, tanpa agama, moral akan menjadi kacau, oleh sebab itu, agama menjadi landing sector bagi pemuda dari terciptanya sebuah etika moral dalam keseharian bagi pemuda, oleh sebab itu, agama merupakan awal mula etika moral bagi pemuda dalam bertindak.


Etika dasar yang berdasarkan agama, sebagai pondasi awal, merupakan hal yang sangat relevan dengan kehidupan berkelanjutan, sehingga apa yang menjadi harapan pemuda Indonesia, dalam mengurus bangsa menjadi lebih baik. Pondok pesantren tentunya kerap kali mengedepankan sebuah nilai etika, yang di tanamkan pada setiap santrinya, sehingga agama menjadi sebuah akar para pemuda dalam pembinaan akhlak yang baik.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button