NEWS

Menko Luhut: RS Skala Internasional Dibangun di Bali

RADARMETRO.ID – Menteri Koordinator Maritim dan Investasi (Menko Marvest) Luhut Binsar Panjaitan (LBP) dan tim sedang menggodok untuk pembangunan rumah sakit berskala internasional di Indonesia. Ada tiga daerah yang berpotensi dibangun RS tersebut, di antaranya Jakarta, Medan, dan Bali. Keberadaan RS skala internasional ini bertujuan agar warga Indonesia tidak lagi berobat ke luar negeri dan bisa serta tersedia di dalam negeri. Beberapa langkah yang sudah ditempuh oleh Menko Marvest, salah satunya adalah mendata seluruh rumah sakit yang ada di Indonesia.


Berdasarkan pemaparan Menko Marvest, selama ini jumlah rumah sakit dan dokter di Indonesia masih terpusat di Pulau Jawa, yakni 64 persen. Dan dari jumlah itu, sebagian besar adalah RS swasta dan 92 persen tidak terikat. Rinciannya di Pulau Jawa terdapat 1.276 rumah sakit,18.328 dokter spesialis, dan 27.897 dokter umum. Sementara di Sumatera hanya ada 586 rumah sakit, 5.701 dokter spesialis, dan 12.101 dokter umum,Bali hanya ada 64 rumah sakit, 1.130 dokter spesialis, dan 1.521 dokter umum, Kalimantan ada 160 rumah sakit, 1.484 dokter spesialis, dan 3.157 dokter umum, Sulawesi ada 216 rumah sakit, 2.116 dokter spesialis, dan 3.929 dokter umum, serta Papua plus Papua Barat hanya ada 46 rumah sakit, 214 dokter spesialis, dan 798 dokter umum.


“Kita ingin membangun fasilitas rumah sakit skala internasional. Semua peralatan komplet, dan SDM kedokteran spesialisnya juga lengkap. Sehingga tidak ada lagi orang Indonesia yang berobat ke luar negeri, semua ada di Indonesia. Kita ingin terpusat seperti di Penang, Malaysia. Oleh sebab itu, kita akan putuskan nanti berada dimana RS ini nanti dengan mempertimbangkan seluruh aspeknya,” ujar Luhut saat melakukan pemaparan melalui zoom meeting yang dipandu Dahlan Iskan dan diikuti 200 lebih media se-Indonesia di bawah naungan Disway National Network (DNN), Senin (10/01/2022).


LBP juga menjelaskan bahwa saat ini sistem layanan kesehatan Indonesia adalah yang terendah di antara negara Asia Tenggara. Dengan presentasi belanja kesehatan dihitung melalui besaran APBN hanya 2,9 persen, ketersediaan tempat tidur di RS masih 1.2 dibandingkan jumlah penduduk, dan bahkan jumlah dokternya masih 0,4 jika dibandingkan dengan kelayakan jumlah pasiennya. Sementara itu, sebagai indikator untuk keberadaan dokter spesialis, LBP juga melakukan pemetaan delapan penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat Indonesia. Dimulai dari urutan yang tertinggi, penyakit jantung merupakan mayoritas disusul kanker, stroke, gagal ginjal, thalassemia, hemophilia, leukemia, dan sirosis hati.


“Pendataan ini untuk memudahkan memetakan apa saja yang harus dipersiapkan di rumah sakit kita nanti. Dasar dari pengembangan pariwisata medis di Indonesia ini didukung oleh tingginya permintaan terhadap layanan kesehatan yang berkualitas di dalam negeri. Saat ini, rumah sakit di Malaysia dan Singapura itu paling banyak adalah pasien asal Indonesia. Berdasarkan data, 60 persen pasien rumah sakit di Malaysia adalah orang Indonesia dan 45 persen yang menjadi pasien di rumah sakit di Singapura adalah orang Indonesia. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Roland Berger, Jakarta, Medan, Bali terpilih sebagai kota yang berpotensi untuk dijadikan sebagai wisata medis di Indonesia,” jelas Luhut.
Lebih jauh LBP menjelaskan, ada lima langkah untuk masuk ke dalam RS internasional di Bali. Yakni fokus kepada layanan kesehatan yang khusus dan terjangkau, menjalin kerjasama dengan pemain lokal, dimulai di kota dengan daya beli dan gap permintaan-penawaran yang tinggi, rekruitmen star doctor, dan manajemen modal kerja serta pemantauan bed turnover. Tidak menutup kemungkinan akan ada tenaga medis yang ikut terlibat nantinya. Namun ada beberapa poin yang ditentukan nantinya.


Bali sepertinya menjadi tempat yang paling cocok dengan banyak pertimbangan. Bahkan rencana pengembangan KEK Pariwisata Medis Sanur Bali diperkirakan mencapai area total seluas 41 hektare. “Pengembangan KEK Sanur akan melalui berbagai tahapan, mulai dari pengembangan RS dan renovasi hotel, hingga pengembangan kawasan yang mampu menarik kunjungan dari profil pengunjung di baru. Konstruksi 2021-2023 atau dalam jangka pendek adalah pembangunan RS dan renovasi hotel, 2024-2025 atau jangka menengah kita akan ekspansi pelayanan dan fasilitas, 2027-2028 atau jangka panjang akan beroperasi penuh. Doakan semua bisa berjalan sesuai rencana dan tentunya teman-teman media menjadi bagian penting keberhasilan program pemerintah ini,” ungkapnya.


Sementara itu, Dahlan Iskan mengucapkan terimakasih atas waktu yang diberikan Kementerian Maritim dan Investasi untuk berbagi ilmu dan program kerja yang dilakukan oleh pemerintah. “Ini kesempatan baik bagi kita semua untuk menyiarkan kepada publik apa program kerja ke depan yang akan dilakukan pemerintah dan kita akan mendukung apa yang baik dan mengawalnya,” ujar Dahlan Iskan yang langsung berada di ruangan Menko Marvest LBP. (hermansyah/radarmetro.id)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button