NEWS

Menghadirkan Kemajuan Tanpa Batas

Profetik UM Metro – Visi Universitas Muhammadiyah Metro ada pusat keunggulan profetik profesional, modern dan mencerahkan. Visi yang mencakup nilai universalitas, intelektual dan spiritual, subtansial dan arsitektural, serta iman dan ilmu pengetahuan.

Dalam tulisan ini akan dibahas singkat dan sederhana tentang profesional. Dalam visi tersebut kata profesional tidak berdiri sendiri akan tetapi disifati dengan kata profetik (nilai kenabian). Sehingga ada sebuah harapan bahwa profesionalisme yang dibangun UM Metro adalah profesionalisme yang dibalut dengan nilai-nilai kenabian, secara keyakinan iman (believe), secara ibadah, akhlak (character) dan sisi muamalah (social interaction).

Profesional dalam literatur Sunnah Nabawiyah adalah itqan atau mutqin. Yang didefinisikan dengan sesuatu aktivitas yang sangat ahli. Sebagaimana Rasulullah S.A.W. berdasarkan:
إن اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melaksanakan suatu pekerjaan, maka pekerjaaan tersebut dilakukannya dengan itqan.” (HR Thabrani)

Itqan itulah yang disebut profesional. Seperti seorang yang hafal Al Qur’an, ketika hafalanya sudah sangat mumpuni, sedikit kesalahannya, diluar kepala, ditanya apapun tentang ayat dia bisa menjawab dengan ayatnya. Hal ini disebabkan karena kebiasaan seorang hafidz dengan murojaah (mengulang-ulang) setiap hari, setiap waktu sehingga hafalanya menguat.

Dalam konteks profesional, orang akan disebut profesional ketika dia ekspert atau ahli, karena keahliannya sudah melekat dalam dirinya, karena setiap waktu keahlian diasah, dan dilakukan setiap waktu.

Ternyata profesionalisme sudah dilakukan oleh para nabi dan rasul, karena mereka bukan hanya seorang nabi yang menyampaikan agama, akan tetapi mereka juga seorang profesional, misal nabi Adam seorang petani bahkan Jibril mengajarkan menanam. Nabi Nuh adalah ahli perkapalan, Nabi Ibrahim as adalah ahli arsitektur dan tatakota, Nabi Musa as adalah ahli politik, Nabi Isa adalah ahli kesehatan dan Nabi Muhammad Saw adalah ahli perdagangan.

Expertaise para nabi adalah bentuk profesionalisme mereka untuk menjadi bekal hidup di dunia, sehingga para nabi dalam dakwahnya juga mencari kehidupan dengan keahliannya. Sebagaimana dalam hadits:
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
Artinya:
Tidak ada seseorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya (bekerja) sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud as. memakan makanan dari hasil usahanya sendiri (HR. Bukhari).

Profesionalisme adalah jalan kenabian (profetik), sehingga dalam menjalankan profesinya mengedepankan nilai tauhid, nilai akhlak, nilai ibadah dan nilai kemanusiaan dan kelestarian alam. Profetik profesional menolak profesionalisme yang hanya mencari keuntungan pribadi atau kelompok, apalagi melanggar nilai halal dan haram, melanggar nilai tauhid dan kemanusiaan. Karena profesionalitas itu akan menjadi kehancuran dunia ini. Sebagaimana Allah SWT berfirman: Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (Ar Ruum ayat 41)

Dalam ayat di atas kata perbuatan mereka (kasabat) dalam pandangan ulama adalah usaha untuk mencari keuntungan harta dengan cara yang salah, misal menghalalkan segala cara, merusak lingkungan, mendzalimi manusia, dan seterusnya.

Oleh sebab itu Universitas Muhammadiyah Metro bersungguh-sungguh menghadirkan profesional yang berbalut sari kenabian, sehingga menjadi Rahmat bagi kehidupan. Sehingga profesionalisme mereka adalah sebagai jalan mentaati titah tauhid sebagai Khalifah di muka bumi, untuk memakmurkan dunia, melestarikan dunia, dan menebarkan tauhid kepada seluruh kehidupan manusia.

Tentu bukan kerja sederhana, membutuhkan kerja keras dan tegas, cerdas dalam menghadirkan visi ini, visi yang selalu menjadi pertanyaan bagi seluruh stok holder, karena membawa nilai profetik yang cendrung utopis. Akan tetapi profetik adalah nilai dasar yang sangat besar dalam rangka membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan (liberasi), kemudian memanusiakan manusia, mengangkat derajat mereka (humanisasi) dan mengajak manusia untuk mengenal Allah SWT , menjalankan titah agama yang diyakininya (transendensi).

Inilah visi yang akan menghadirkan kemajuan tanpa batas, karena kemajuan dunia dan menghangatkan pada kebaikan di akhirat. Karena insan profetis adalah mereka yang meyakini adanya kehidupan yang lebih abadi di akhirat, sehingga menjadikan dunia sebagai jalan dan ladang akhirat.

Penulis: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI dan Anggota BPH UM Metro)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button