NEWS

Lakukan Praktek Tying dan Bundling, Pengusaha Diancam Denda Minimal Rp1 M

RADARMETRO.ID – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengingatkan pengusaha untuk tidak melaksanakan praktek jual beli dengan sistem Tying dan Bundling. Bagi pelaku praktek Tying dan Bundling diancam dengan sanksi administratif minimal Rp.1 miliar.

Demikian disampaikan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) II KPPU Bandarlampung, Wahyu Bekti saat usai menghadiri undangan Pemkot Metro menindaklanjuti temuan praktek Tying dan Bundling di Kota Metro, Selasa (8/3/2022). Ia mengatakan, kehadirannya di Kota Metro tersebut untuk menindaklanjuti temuan praktek Tying dan Bundling di Kota Metro. Terlebih diketahui bahwa pelaku praktek Tying dan Bundling dikenakan disaksi sesuai dengan Undang Undang Nomor 5 tahun 1999, tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

“Memang isu awal yang kami peroleh seminggu lalu ada perilaku Tying dan Bundling di penjualan minyak goreng. Sehingga kami diundang oleh Pemkot untuk mensosialisasikan apa sih yang dilarang dan tidak dilarang berdasarkan Undang Undang Nomor 5 tahun 1999,” terangnya.

Ia mengatakan, selain sanksi pidana perilaku Tying dan Bundling juga dapat disaksi tegas. Yakni berupa sanksi administratif hingga Rp.1 miliar. “Nah saya hadir hari ini untuk mensosialisasikan dan mengadvokasi kepada para pengusaha bahwa perilaku Tying itu dilarang. Tadi saya sudah sampaikan juga bunyi pasalnya bagaimana, penjabaran serta pedomannya sudah kami sampaikan,” paparnya.

Diakuinya, untuk sanksi pidana akan diproses tersendiri oleh pihak kepolisian. Namun untuk sanksi administratif diberikan oleh KPPU. “Kalau pidana di kami tidak, kalau di kami KPPU hanya sanksi administratif minimal Rp.1 miliar sampai 50 persen dari total penjualan dan itu berlaku di kurun waktu pelanggaran. Artinya kalau pelanggarannya 5 tahun dikali saja 50 persen kali 5 tahun, itu maksimalnya. Nah bagi pengusaha yang tidak kooperatif, kami akan gandeng kepolisian untuk menangani pidananya,” tegasnya.

Karenanya pihaknya mengimbau para pelaku usaha untuk tidak melaksanakan praktek-praktek jual beli tidak sehat. Ini seperti melaksanakan praktek jual beli Tying maupun Bundling. “Seperti saya sampaikan di awal tadi bahwa kami hadir disini bukan untuk menjadi momok. Kami ingin memberikan advokasi dalam bentuk pencegahan. Artinya kalau bisa kami datang langsung dihentikan setelah ini. Tadi alhamdulillah kawan-kawan langsung memahami, mudah-mudahan kedepannya tidak ada lagi yang melakukan praktek-praktek Tying,” paparnya.

Terlebih, lanjutnya, produk minyak goreng ini sedang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Sehingga pelaku usaha dikbau untuk tidam memanfaatkan situasi tersebut. Ia mengakui dalam kegiatan tersebut pihaknya telah memberikan teguran kepala para pelaku usaha.

“Tadi saya sudah sampaikan apabila setelah hari ini masih ada, dengan bantuan Pemkot kami mohon diinformasikan ke kami dan kami akan langsung panggil untuk diproses. Jadi sekali lagi tolong dihentikan setelah saya hadir hari ini, tolong dihentikan. Jangan diulangi lagi. Tadi saya juga sudah sampaikan sanksinya minimal Rp.1 miliar sampai 50 persen dari total penjualan selama 1 tahun dalam kurun waktu pelanggaran,” tukasnya.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Metro memberikan peringatan kepada ritel moderen di Bumi Sai Wawai. Itu menyusul ditemukannya praket Tying dan Bundling dalam penjualan minyak goreng.

Walikota Metro Wahdi dikonfirmasi awak media usai melakukan inspeksi mendadak (Sidak) mengakui, telah menemukan satu toko ritel yang melanggar. Dalam kesempatan tersebut pihaknya memberikan teguran bagi pengusaha tersebut.

“Kita Operasi Pasar hari ini di beberapa tempat untuk menjaga kebutuhan masyarakat terutama minyak goreng. Dari tinjauan ini ada satu tempat yang melakukan tying dan bundling,” terangnya usai sidak bersama dengan Forkopimda dan Satgas Pangan Kota Metro, Selasa (1/3/2022).

Diketahui, praktik tying adalah upaya yang dilakukan pihak penjual yang mensyaratkan konsumen untuk membeli produk kedua saat mereka membeli produk pertama, atau paling tidak konsumen sepakat untuk tidak membeli produk kedua di tempat lain. Sedang praktik bundling adalah upaya penjualan beragam produk dalam satu paket secara bersama-sama. Praktik tying and bundling ini merupakan hal yang diancam untuk dikenai sanksi dalam hukum antimonopoli. (ria)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button