NEWS

Festival Bumi Sai Wawai, Penggiat Budaya : Rancunya Kebudayaan Metro

RADARMETRO.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Metro akan menggelar perayaan Hari Jadi Kota Metro Ke-58. Festival Bumi Sai Wawai menjadi nama yang disematkan dalam perayaan yang dimulai sejak 9 sampai 13 Juni 2022 mendatang.

Penggiat Kebudayaan Kota Metro menyoroti penamaan Festival Bumi Sai Wawai yang dianggap tidak menghargai perjuangan suku Lampung di Kota Metro. Selain itu, perubahan nama tersebut juga menggambarkan rancunya strategi budaya yang diterapkan.

“Intinya saya sebagai suku Lampung Buay Melinting, yang tinggal di Metro prihatin dengan peristiwa ini karena ini soal kerancuan strategi kebudayaan di Kota Metro,” keterangan Muadin Efuari salah seorang Penggiat Budaya di Kota Metro saat dikonfirmasi radarmetro.id melalui sambungan telepon, Selasa (24/5/2022).

Dari data yang dihimpun radarmetro.id, suku Lampung Buay Nuban merupakan penghuni asli dataran cikal bakal Kota Metro. Sehingga perayaan hari jadi Kota Metro semula bernama Festival Putri Nuban, sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para pendahulu. Saat ini, Festival Tersebut oleh Pemkot Metro dirubah menjadi Festival Bumi Sai Wawai.

Perubahan nama festival tersebut, menurut Muadin akan merubah pandangan masyarakat. Karena hal seperti itu, seolah-olah Kota Metro tidak memiliki identitas kebudayaan yang diturunkan dari waktu ke waktu kepada masyarakat.

“Ketika kita bilang nama, dan nama itu berubah akan berpengaruh. Ketika dirubuh namanya, itu akan membuat kerancuan strategi kebudayaan Kota Metro itu sendiri. Seolah-olah, perubahan nama-nama yang berkaitan dengan kebudayaan mencerminkan Metro tidak memiliki identitas Budaya,” ujar Muadin.

Muadin mengungkapkan perubahan nama Festival Putri Nuban menjadi Festival Bumi Sai Wawai oleh Pemkot Kota Metro tanpa melibatkan tokoh-tokoh adat Lampung Buay Nuban.

“Saya tidak mengetahui sebab dan tujuan kenapa dirubah menjadi Festival Bumi Sai Wawai. Kaya tidak bermakna gitu, bumi mana yang tidak Wawai gitu. Tapi tidak tahu ya untuk tokoh-tokoh lain, tapi yang jelas saya sendiri tidak tahu,” ungkapnya.

Sebelumnya, menurut Muadin, pelaksanaan Festival Putri Nuban sudah menjadi agenda tahunan dalam perayaan hari jadi Kota Metro, terakhir dilaksanakan 5 tahun silam dan baru dilaksanakan kembali tahun 2022 ini dengan nama yang berbeda.

“Setiap tahunnya dilaksanakan di Kota Metro untuk mempertahankan adat kebudayaan Lampung Buay Nuban. Itu kurang lebih 4 atau 5 tahun yang lalu kita laksanakan di Lapangan Samber,” tuturnya.

Muadin juga menyayangkan dengan agenda-agenda Festival Bumi Sai Wawai yang tidak menonjol kebudayaan asli sebagai identitas Kota Metro.

“Saat itu, kita memperjuangkan identitas kebudayaan yang berwujud Festival itu sangat keras. Walaupun ada agenda pemberian gelar di Festival Bumi Sai Wawai, tapi identitas kebudayaan Kota Metro sendiri tidak banyak diperlihatkan,” terangnya.

“Yang paling berkesan dalam festival kebudayaan kan ya terkait identitas kebudayaan di Kota Metro itu,” tambah Muadin.

Lebih lanjut, Muadin menganggap Pemkot Metro telah menyalahi Perda Kota Metro Nomer 8 Tahun 2017 Tentang Pemeliharaan dan Pelestarian Budaya Lampung.

“Perubahan nama ini kan juga menyalahi Perda Nomer 8 Tahun 2017 yang mengatur tentang Pemeliharaan dan Pelestarian Budaya Lampung di Kota Metro,” ujarnya.

Sewaktu Muadin menjadi pelaksana Festival Putri Nuban, ia pernah di berikan apresiasi langsung oleh warga asli kelahiran Kota Metro. Lantaran warga tersebut terpesona dengan adanya ragam penampilan kebudayaan sebagai identitas Kota Metro yang ia sajikan dalam perayaan tersebut.

“Sewaktu itu, saya pernah ada orang yang ngomong kesaya, bahwa dia itu selama 35 tahun hidup di Kota Metro belum pernah melihat Festival Kebudayaan di Kota Metro seperti yang kita laksanakan saat itu. Dan saya tau, orang itu memang asli Metro,” terangnya

Sampai saat ini, Muadin tetap bertekad untuk selalu mempertahankan kebudayaan suku Lampung Buay Nuban. Sedangkan disinggung terkait keterlibatannya dalam Festival Bumi Sai Wawai, ia tidak terlibat sama sekali.

“Saya tidak terlibat di Festival kali ini dan lebih baik seperti itu. Karena semua sudah berubah,” pungkas Penggiat Kebudayaan Kota Metro, Muadin. (Naim)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button