NEWS

DP3K Belum Temukan Penyakit PMK pada Hewan Ternak, Peternak Diimbau Waspada

RADARMETRO.ID – Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Metro mengimbau para peternak waspada terhadap gejala Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan. Pasalnya, penyakit yang disebutkan virus tersebut menyerang hewan ternak baik ruminansia maupun non ruminansia.

“Ini menyerang ternak seperti kerbau, sapi, kambing, domba, dan juga babi. Gejalanya hewan mengalami demam tinggi hingga 41°,” jelas Kasi Kesmavet, Pengolahan dan Pemasaran DKP3 Kota Metro, Putri Mustika saat dikonfirmasi di Kantor DKP3, Kamis (12/5/2022).

Ia menjelaskan, virus tersebut biasanya berinkubasi di dalam tubuh hewan ternak selama 1-14 hari. Penyakit tersebut ditandai dengan ternak yang tidak mau makan serta muncul leksi di bagian mulut dan kuku.

“Biasanya itu ada leksi atau kita biasa bilang luka, luka lepuh seperti sariawan didalam rongga mulut, di lidah, di gusi, di bibir kemudian di kuku. Makanya disebut mulut dan kuku, itu ciri yang bisa kita lihat disitu,” jelasnya.

Menurutnya, PMK itu sendiri sudah pernah dialami di Indonesia. Namun sejak tahun 1986 sudah bebas dari penyakit tersebut. “Penyakit mulut dan kuku ini adalah penyakit yang sudah bebas sebenarnya di Indonesia 30 tahun yang lalu. Bahkan sampai 2021 atau awal 2022 kemarin tidak ada kasus dan tidak ditemukan ada penyakit mulut dan kuku di Indonesia,” paparnya.

Ia mengaku, hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan kasus hewan ternak mengalami PMK baik di Lampung maupun di Kota Metro. Meski demikian ia mengimbau kepada para peternak untuk dapat mengawasi hewan ternak dengan cermat.

“Segera laporkan apabila ada hewan yang memiliki gejala tersebut. Karena ini harus kita waspadai ya, terlebih perantara dari penyakit ini pertama dari kontak langsung hewan ke hewan. Kedua dari perantara seperti manusia, peternak itu sendiri kemudian peralatan kandang, transportasi kandang atau makanan yang terkontaminasi,” paparnya.

Ditanya mengenai peneluran penyakit tersebut ke manusia, ia mengaku, sampai saat ini belum ditemukan kasus penularan penyakit tersebut ke manusia. Tetapi apabila diabaikan akan berdampak pada perekonomian peternak skala besar. “Apabila ada kasus harus segera kita tangani. Karena penyebaran virus ini terbilang sangat cepat,” tutupnya.(ria)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button